Telkom Indonesia Dorong Literasi AI di Ranah Sosial dan Kesehatan

Telkom Indonesia Dorong Literasi AI di Ranah Sosial dan Kesehatan

Fenomena ini dipengaruhi oleh kemampuan chatbot AI untuk memberikan respons cepat, netral, dan selalu tersedia tanpa batasan waktu. Bagi sebagian orang, AI menjadi ruang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi. Namun, sifat AI yang bekerja berdasarkan data dan algoritma juga membawa risiko, terutama ketika pengguna mulai mengandalkan saran dari sistem yang tidak memiliki sensitivitas emosional layaknya manusia. Inilah yang mendorong Telkom Indonesia untuk mengangkat topik ini ke ranah diskusi publik.

Acara yang diselenggarakan secara daring ini menghadirkan Mirratul Afifah M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis Rumah Pulih) dan Muhammad Andhika Prasetya (Founder Temani) sebagai narasumber, dengan Dinda Maharani dari IndigoHub Bandung sebagai moderator. Para pembicara memaparkan pandangan mereka terkait bagaimana AI dapat digunakan secara positif di ranah personal, sambil tetap memperhatikan batas etis dan kesehatan mental pengguna.

Baca Juga  Peluang Cuan Kode Referral di Program 6.6 Double Untung dari neobank

Mirratul Afifah mengangkat konsep emotional outsourcing, yakni kecenderungan pengguna untuk melimpahkan beban emosional mereka kepada AI. Ia menjelaskan bahwa AI memang dapat membantu meredakan beban emosi dan memfasilitasi refleksi diri, tetapi tidak bisa menggantikan peran tenaga profesional dalam memberikan diagnosis maupun penanganan masalah psikologis. “AI bisa menjadi teman bicara yang baik untuk membantu kita memahami diri sendiri, namun ketika menyangkut keputusan penting terkait kesehatan mental, peran psikolog tetap diperlukan,” ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa penggunaan berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan, yang justru berdampak negatif bagi kesejahteraan mental individu.