Harga Minyak Terus Melemah Akibat Kebijakan Produksi Baru OPEC+

Harga Minyak Terus Melemah Akibat Kebijakan Produksi Baru OPEC+

Dari sudut pandang teknikal, Andy Nugraha menyebutkan bahwa kombinasi antara pola candlestick harian dan indikator Moving Average saat ini menunjukkan kecenderungan kuat menuju tren bearish. Jika tekanan jual tetap berlanjut, harga WTI diperkirakan bisa mendekati zona support kritis di sekitar $65 per barel. Meskipun demikian, peluang rebound ke kisaran resistance $67 masih terbuka apabila terjadi aksi beli atau koreksi teknikal dalam jangka pendek.

Tak hanya faktor teknikal dan suplai, dinamika geopolitik juga turut mempengaruhi pergerakan harga minyak. Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump kini meningkatkan tekanan terhadap India agar menghentikan impor minyak dari Rusia. AS bahkan mengancam akan memberlakukan tarif sekunder sebesar 100% sebagai bentuk tekanan tambahan, menyusul pemberlakuan tarif 25% terhadap produk India yang diumumkan pada bulan Juli sebelumnya. India saat ini menjadi importir utama minyak Rusia melalui jalur laut, dengan volume impor mencapai 1,75 juta barel per hari selama paruh pertama tahun 2025. Jika aliran minyak ini terganggu, stabilitas pasokan global dapat terdampak, meskipun sejauh ini belum mampu mendorong harga minyak naik secara signifikan.

Baca Juga  KAI Tetapkan Tarif Rp1 untuk LRT Jabodebek pada H1–H2 Lebaran 2026

Andy juga menekankan bahwa meskipun risiko geopolitik dapat menimbulkan gangguan pasokan, fokus utama pasar masih tertuju pada kekhawatiran atas kelebihan suplai dari OPEC+. Penambahan produksi dalam waktu dekat ditambah dengan permintaan bahan bakar yang cenderung lesu di Amerika Serikat, menjadi dua faktor utama yang menekan harga minyak mentah saat ini.