ELANG juga mendesak aparat penegak hukum untuk tidak ragu menetapkan tersangka baru dalam kasus ini. Mereka menilai bahwa proses hukum yang lamban justru memperpanjang penderitaan masyarakat yang terdampak.
Pahot yang juga Sekjend Elang Riau Dalam orasinya menyampaikan Sebagai bentuk evaluasi total, Ia bahkan menyampaikan desakan kepada Presiden Republik Indonesia untuk mencopot Direktur Utama PT PHR. Ia menyebut bahwa pemimpin PHR saat ini tidak cakap dalam mengemban amanah dan memperbaiki citra perusahaan di hadapan publik.
“Kami tidak butuh janji. Kami butuh aksi nyata dan keadilan bagi masyarakat Rokan Hilir. Jika Presiden RI serius dalam agenda lingkungan hidup dan keadilan sosial, maka pencopotan Dirut PHR adalah langkah awal,” pungkas ELANG.
Aksi Elang Riau tersebut dihadiri oleh salah satu perwakilan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Andi Kurnianto, yang diketahui menjabat sebagai Manajer Keamanan (Security Manager). Namun kehadiran Andi justru memicu ketegangan di lapangan.
Andi Kurnianto terlibat adu mulut dengan massa aksi ELANG Riau setelah dinilai tidak mampu memberikan jawaban substantif atas sederet persoalan yang dipaparkan mahasiswa, khususnya terkait dugaan pencemaran limbah B3 di Kecamatan Rantau Kopar, Rokan Hilir.
“Kami datang membawa tuntutan serius, bukan untuk dijawab oleh bagian keamanan. Kami ingin Dirut, manajer operasional, atau humas yang hadir secara langsung. Bukan sekadar mengutus security,” tegas Aji ketua umum ELANG Riau.
Ketegangan meningkat karena PT PHR dianggap tidak menunjukkan itikad baik dalam menyelesaikan persoalan lingkungan yang berdampak langsung pada masyarakat. Mahasiswa dan aktivis ELANG pun menyayangkan ketidakhadiran pihak manajemen inti PT PHR, yang dinilai lepas tangan atas krisis yang terjadi.
ELANG Riau menegaskan bahwa aksi akan terus berlanjut hingga ada kejelasan sikap dan tanggung jawab dari Direktur Utama PT PHR maupun pejabat strategis lainnya yang kompeten menyelesaikan masalah.
(Magrifatulloh)






