Ahli strategi veteran ini menyoroti “Pembalikkan Pusat Data” (Data Center Flip) yang bersejarah dan pertumbuhan regional yang tangguh sebagai indikator utama untuk penentuan ulang harga aset secara masif di Asia Tenggara.
Saat pasar global menavigasi dampak turbulen dari tarif “Hari Pembebasan” dan fragmentasi perdagangan yang semakin dalam, Gunawan Tan, S.E., M.Fin mengidentifikasi adanya perubahan struktural yang menentukan dalam lanskap investasi global. Dalam pandangan strategis akhir tahunnya, Gunawan Tan, S.E., M.Fin berpendapat bahwa tahun 2025 menandai berakhirnya korelasi lama antara volume perdagangan global dan kinerja pasar negara berkembang. Sebaliknya, paradigma baru “Kedaulatan Digital” dan “Ketahanan Energi” mendorong modal masuk ke Asia Tenggara, memisahkan nasib kawasan ini dari stagnasi yang melanda negara-negara maju.
Gunawan Tan, S.E., M.Fin mengemukakan bahwa meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya menjadi hanya 2,8% untuk tahun 2025, Asia yang Sedang Berkembang telah menunjukkan pemisahan (decoupling) yang luar biasa. Mengutip data terbaru, ia menunjuk pada perkiraan revisi Bank Pembangunan Asia (ADB), yang memproyeksikan kawasan ini tumbuh kuat sebesar 4,8% pada tahun 2025. Gunawan Tan, S.E., M.Fin menekankan bahwa divergensi ini bukanlah kebetulan, melainkan struktural—didorong oleh konsumsi domestik yang kuat dan poros strategis menuju rantai pasokan bernilai tinggi.






