Bireuen, Media Patriot Indonesia
Di saat bencana banjir masih melanda sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera pada awal tahun 2026, warga Kota Juang, Kabupaten Bireuen, justru dihadapkan pada beban baru. Pengisian token listrik prabayar yang sebelumnya masih bisa dilakukan dengan nominal Rp20 ribu, kini disebut tidak lagi tersedia dan harus diisi minimal Rp50 ribu.
Kondisi ini menuai keluhan dari masyarakat, terutama warga dengan penghasilan pas-pasan. Salah satunya Apaki, warga Kota Juang, yang mengaku kebijakan tersebut sangat memberatkan kehidupan sehari-hari.
“Pendapatan kami pas-pasan. Seharusnya pihak PLN bisa memahami kondisi masyarakat saat ini, apalagi di Bireuen masih banyak warga dari kalangan menengah ke bawah,” ujar Apaki kepada media ini, Kamis (01/01/2026).
Menurutnya, hilangnya opsi pengisian token Rp20 ribu dikhawatirkan akan membuat sebagian masyarakat tidak lagi mampu membeli listrik. Akibatnya, lampu-lampu di rumah warga bisa padam bukan karena gangguan teknis, melainkan karena keterbatasan ekonomi.
“Kalau tidak mampu beli token, listrik mati dengan sendirinya. Ini yang kami takutkan,” tambahnya lirih.
Sebagai warga biasa, Apaki berharap agar kenaikan nominal pengisian token listrik prabayar tidak diberlakukan, sehingga seluruh lapisan masyarakat tetap bisa menikmati akses listrik secara layak, tanpa dibedakan oleh kemampuan ekonomi.






