JAKARTA — Penguatan agenda hilirisasi dan swasembada energi nasional kini mendapat dukungan arsitektur riset berbasis problem statement yang disiapkan pemerintah.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) membuka ruang kolaborasi strategis dengan Dewan Energi Nasional (DEN) serta pelaku industri, dengan menempatkan MIND ID sebagai salah satu mitra kunci. Langkah ini diakselerasi untuk memastikan kebijakan energi nasional melainkan dibangun di atas fondasi ilmiah yang kokoh dan aplikatif.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Aziman, menegaskan bahwa riset nasional tidak lagi disusun sekadar berbasis topik, tetapi diarahkan untuk menjawab tantangan nyata industri dan kebutuhan strategis negara.
“Kami ingin penelitian berbasis pemecahan masalah. Problem statement itu tidak hanya datang dari kampus, tetapi juga dari industri, BUMN, dan Dewan Energi Nasional. Apa yang menjadi perhatian DEN dan industri seperti MIND ID, itulah yang kami dorong menjadi fokus penelitian,” ujar Fauzan dalam sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 di Jakarta baru-baru ini.
Perubahan arsitektur riset tersebut diperkuat dengan peningkatan anggaran riset nasional dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun pada 2025. Kenaikan 50% tersebut diarahkan untuk mempercepat penguasaan teknologi khususnya di sektor strategis, termasuk hilirisasi mineral dan ketahanan energi.






